Media Online serantauriau.news mengucapkan selamat melaksanakan rukun Islam kelima kepada Jamaah Calon Haji (JCH) Indonesia musim haji1440 Hijriah. Selamat memenuhi panggilan Allah SWT dan Ibrahim AS, senoga dilancarkan semua rangkaian ibadah, tetap sehat dan mendapatkan haji mabrur dan mabrurah. Aamiin Yra.***

Negara Harus Terlibat Majukan Pendidikan Agama

Wakil Ketua Baleg nenerima masukan dari pengusul RUU tentang Lembaga Pendidikan Keagamaan dan Pesantren. (Foto: Azka/HR)

Wakil Ketua Baleg nenerima masukan dari pengusul RUU tentang Lembaga Pendidikan Keagamaan dan Pesantren. (Foto: Azka/HR)

M Iqbal Fikri

Rabu, 28 Maret 2018

Jakarta - serantauriau.news - Wakil Ketua Badan Legislasi DPR RI Totok Daryanto menjelaskan, dalam Rancangan Undang-Undang (RUU) Lembaga Pendidikan Keagamaan dan Pesantren, pihaknya mendorong agar negara terlibat dalam memajukan pendidikan agama, tidak hanya Agama Islam, tapi juga agama-agama lainnya yang diakui Negara Indonesia.

“Jadi hendaknya undang-undang ini gagasan pokoknya mendorong supaya pendidikan keagamaan, baik itu Islam dan agama lain maju dan menjadi landasan pembentukan karakter bangsa,” jelas Totok saat mendengarkan masukan dari dua pengusul RUU Lembaga Pendidikan Keagamaan dan Pesantren, yakni Fraksi Partai Persatuan Pembangunan (PPP) dan Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), di Ruang Rapat Baleg, Gedung DPR RI, Senayan, Jakarta, Selasa (27/3/2018). 

Politisi Fraksi PAN ini menyampaikan, Baleg akan segera membentuk Panja Harmonisasi dan melakukan pendalaman terhadap draf dari Fraksi PPP dan PKB ini. “Pada dasanya, kalau ada salah-salah kita benarkan, kalau sudah betul kita dukung,” ujar Totok sebagaimana disarikan dari dpr.go.id

Dalam kesempatan itu, Ketua Fraksi PPP Reni Marlinawati yang menjadi juru bicara di Baleg menyampaikan dalam beberapa hal terjadi kesamaan pemahaman di antara dua pengusul, baik PPP dan PKB yang diwakil oleh juru bicara Nihayatul Wafiroh. 

Reni menjelaskan, sebab musabab kenapa RUU ini diusulkan untuk menjadi undang-undang, karena dalam sejarah pendidikan di Indonesia, jauh sebelum sistem pendidikan nasional hadir, yakni sekitar tahun 1347, telah terjadi prosesi pendidikan. Awalnya lembaga pendidikan di Nusantara menggabungkan kurikulum pendidikan agama dan umum. 

Meskipun ada kesamaan prinsip, di setiap daerah-daerah penamaannya berbeda-beda. “Yang setiap daerah berbeda-beda, kalau di Jawa namanya pesantren, kalau di Aceh namanya menasah, kalau di Sumatera Barat namanya surau,” ungkap Reni. 

Dari sisi historis, dia juga menjelaskan, seiring kedatangan Portugal dan Belanda terjadi pemisahan antara pendidikan agama dan pendidikan umum. Jadi menurutnya, jika merunut pada sejarah sesungguhnya dalam pesantren, menasah, dan surau itu terjadi pembelajaran yang komprehensif, bukan saja pendidikan agama tetapi juga pendidikan umum.(MIF)