Salam Tahniah, Selamat Merayakan Hari Jadi Ke-20 Kabupaten Kuantan Singingi, Kabupaten Siak, Kabupaten Pelalawan dan Kabupaten Rokan Hulu. Sebagai daerah pemekaran baru, punya semangat dan harapan baru untuk memajukan dan menyejahterakan masyarakat tempatan menjadi negeri yang cemerlang dan terbilang. Insyaallah.***

Luar Biasa, Baru Kali Ini Selama Puasa dan Idul Fitri Inflasinya Sangat Rendah

Kepala BPS Riau menerangkan angka inflasi di Riau, lewat paparan di slide. (Foto: Fitri Burhan)

Kepala BPS Riau menerangkan angka inflasi di Riau, lewat paparan di slide. (Foto: Fitri Burhan)

Fitri Burhan

Senin, 02 Juli 2018

Pekanbaru - serantauriau.news - Bahan makanan, terutama cabai merah biasanya menjadi penyebab inflasi di Riau. Namun pada Juni 2018, bahan makanan tak lagi memicu inflasi.

Demikian dipaparkan Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Riau Ir Aden Gultom MM, Senin (2/7/2018) siang di kantornya. Untuk Juni 2018, terang Aden, Provinsi Riau mengalami inflasi sebesar 0,11 persen dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) 135,00.

"Dengan demikian Inflasi Tahun Kalender sebesar 1,18 persen dan Inflasi Year on Year (Juni 2018 terhadap Juni 2017) sebesar 3,32 persen," ulas Aden saat berita resmi statistik tentang perkembangan indeks harga konsumen (inflasi/deflasi) di Riau.

"Angka inflasi 0,11 persen itu rendah luar biasa. Baru kali ini di bulan puasa dan Idul Fitri, karena Juni lalu bulan puasa dan Idul Fitri, angka inflasi justru rendah," ungkap Aden.

Juni lalu, tidak ada gejolak harga di pasaran. Terutama pada bahan makanan. Diduga akibat distribusi barang yang terjamin.

Dikatakan Aden, pihaknya bersama Pemprov Riau, sebelum lebaran lalu sudah "keliling", tidak ditemukan adanya spekulan atau penimbun barang.

"Kalau hari raya tahun-tahun sebelumnya, masih ada spekulan. Biasanya jelang Idul Fitri, harga cabai merah dan beberapa bahan makanan lainnya naik drastis. Tapi kali ini luar biasa. Usaha pemerintah kali ini saya rasa bagus untuk itu," pujinya.

Bahan makanan yang justru memicu deflasi, disebutkan Aden, merupakan kondisi yang cukup menggembirakan.

Adapun komoditas yang memberikan andil terjadinya inflasi di Riau, Juni lalu, antara lain angkutan udara, angkutan antar kota, rokok kretek, rokok kretek filter, sewa rumah, petai, blus, buncis. Sementara itu, komoditas yang memberi andil deflasi antara lain cabai merah, pertalite, bawang merah, daging ayam ras, teri, daging sapi, bawang putih.

"Ya, inflasi Riau bulan Juni 2018, secara rinci terjadi karena adanya kenaikan harga pada kelompok transpor, komunikasi dan jasa keuangan yang mengalami inflasi sebesar 0,84 persen, diikuti kelompok sandang sebesar 0,75 

persen, kelompok makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau sebesar 0,69 persen, kelompok perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar sebesar 0,16 persen, kelompok kesehatan sebesar 0,13 persen, 

dan kelompok pendidikan, rekreasi dan olahraga sebesar 0,04 persen. Sedangkan kelompok bahan makanan mengalami deflasi sebesar 1,09 persen," jelasnya.

Dari 3 kota IHK di Provinsi Riau, semua kota mengalami inflasi, yakni Pekanbaru sebesar 0,01 persen, Dumai sebesar 0,65 persen dan Tembilahan sebesar 0,11 persen.

Perbandingannya dengan angka inflasi Indonesia, angka inflasi Riau termasuk rendah. Sebagaimana diterangkan Kepala BPS RI Dr Suhariyanto, dalam teleconference berita resmi statistik di kantor BPS Riau, Juni 2018, angka inflasi Indonesia 0,59 persen. Dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 133,77.

Dari 82 kota IHK, seluruhnya mengalami inflasi. Inflasi tertinggi terjadi di Tarakan sebesar 2,71 persen dengan IHK sebesar 146,13 dan terendah terjadi di Medan dan Pekanbaru masing-masing sebesar 0,01 persen serta 0,11 persen.

Inflasi di Indonesia secara umum terjadi karena adanya kenaikan harga yang ditunjukkan oleh naiknya seluruh indeks kelompok pengeluaran, yakni kelompok bahan makanan sebesar 0,88 persen; kelompok makanan jadi, minuman, rokok, dan tembakau sebesar 0,40 persen; kelompok perumahan, air, listrik, gas, dan bahan bakar sebesar 0,13 persen; kelompok sandang sebesar 0,36 persen; kelompok kesehatan sebesar 0,27 persen; kelompok pendidikan, rekreasi, dan olahraga sebesar 0,07 persen; dan kelompok transpor, komunikasi dan jasa keuangan 1,50 persen. (FB)