Tahniah  Hari Jadi Ke-64 Provinsi Riau, 9 Agustus 2021 dan HUT Ke-76 Kemerdekaan RI, 17 Agustus 2021. Semoga cepat bangkit dan bebas dari belenggu pandemi. Dirgahayu Provinsi Riau! Dirgahayu Republik Indonesia!***

 

Wajah Mendua Kota Pekanbaru, Menjembatani Jurang Kesenjangan

Berbagai iven tersaji di mal dan sejumlah pusat perbelanjaan, setelah itu warga kota bermain di ruang terbuka hijau di pangkal Jalan Riau-A Yani, dan malam pergantian tahun Kota Pekanbaru diguyur hujan lebat, maka jalan-jalan pun direndam banjir.

Berbagai iven tersaji di mal dan sejumlah pusat perbelanjaan, setelah itu warga kota bermain di ruang terbuka hijau di pangkal Jalan Riau-A Yani, dan malam pergantian tahun Kota Pekanbaru diguyur hujan lebat, maka jalan-jalan pun direndam banjir.

ABU BAKAR SIDDIK

Senin, 01 Januari 2018

WAJAH kontras Kota Pekanbaru, di hari terakhir kalender 2017, sangat berbeda dan mendua. Tepat pada siang menjelang petang wajah kota Bertuah ini cukup cerah walaupun sesekali disela oleh gerimis mengundang alias hujan selayang.

Karena itu banyak warga kota memilih laman bermain di sejumlah pusat perbelanjaan yang tidak saja memberikan suasana nyaman namun juga menawarkan harga yang dibanting-banting karena alasan sedang mencuci-gudang.

Kondisi ini sangat berbeda dengan situasi di pasar-pasar tradisional. Selain melewati gang sempit yang pengap dan berdesak-desakan, konsumen tidak pula mendapatkan kepastian harga karena harus bersusah-payah menawar dulu supaya tidak tertipu. 

Jangankan untuk mendapatkan harga cuci-gudang, yang terjadi justru harus mencuci kaki sendiri akibat lecah di sana-sini. Beginilah wajah mendua kotaku Pekanbaru, kota metropolitan yang kini bertajuk kota madani. 

Sempena dengan ini maka sepatutnyalah Pemko mengambil peran penjembatanan antara dua jurang kesenjangan agar tak terus menganga atau terkesan Pemko  melakukan pembiaran.

Kehadiran sejumlah mal atau pusat perbelanjaan modern di ibukota Provinsi Riau yang terus tumbuh dan berkembang ini merupakan keniscayaan yang patut disyukuri, tetapi wajah pasar tradisional yang tertinggal juga mesti diseriusi supaya jurang kesenjangan itu tak terus menganga.

Dua hal yang selalu saja membuat wajah pasar tradisional menjadi tertinggal yaitu kebersihan dan ketertiban yang menjauhkannya dari wajah keindahan. Dua indikator pengganggunya adalah sampah yang berserakan dan banjir alias air menggenang lama akibat drainasenya yang tak memadai dan gampang tersumbat serta tidak pula tersambung ke anak-anak sungai yang bermuara pada dua sungai yaitu Sungai Siak dan Sungai Kampar.

Dengan posisi geografis yang diapit oleh dua sungai itu, menurut pakar perkotaan, logikanya Pekanbaru bebas banjir. Tapi, kenapa logika itu tak terwujudkan? Tentulah masalah ini dikembalikan ke pangkal kaji, yaitu harus ada polirical will dan political action dari pemerintah disertai itikad warga kota untuk peduli lingkungan dan kesadaran hidup bersih.

Ibarat bertepuk memang tak berbunyi jika sebelah tangan. Memang harus timbal-balik antara Pemko dan warganya. Searah sepandangan dan seiring sejalan. Sesuai tunjuk-ajar Melayu, antara pemimpin dan warga yang dipimpinnya hanya didahulukan selangkah dan ditinggikan seranting. Jadi memang tak bisa berjauhan, bukan? ***