Salam Tahniah, Selamat Merayakan Hari Jadi Ke-20 Kabupaten Kuantan Singingi, Kabupaten Siak, Kabupaten Pelalawan dan Kabupaten Rokan Hulu. Sebagai daerah pemekaran baru, punya semangat dan harapan baru untuk memajukan dan menyejahterakan masyarakat tempatan menjadi negeri yang cemerlang dan terbilang. Insyaallah.***

Jengkol Pemicu Inflasi di Riau

Kepala BPS Riau memaparkan mengenai inflasi di Riau pada Bulan Juli 2018. (Foto: Fitri Burhan)

Kepala BPS Riau memaparkan mengenai inflasi di Riau pada Bulan Juli 2018. (Foto: Fitri Burhan)

Fitri Burhan

Rabu, 01 Agustus 2018

Pekanbaru - serantauriau.news - Jengkol memang menjadi makanan yang diminati orang Melayu. Salah satunya di Riau. Namun sayang, saat ini, harga jengkol atau disebut juga jering mahal, sebagaimana dikeluhkan ibu-ibu rumah tangga.

Hingga jengkol menjadi salah satu pemicu inflasi di Riau. Harga jengkol yang cukup mahal menjadikan jengkol sebagai salah satu pemicu inflasi bersama bahan makanan lainnya, seperti daging ayam ras, telur ayam ras, nasi dengan lauk di rumah makan, ayam hidup dan susu untuk balita.

"Di samping bahan makanan, komoditas yang memberikan andil terjadinya inflasi di Riau antara lain angkutan udara, tarif pulsa ponsel, bensin," terang Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Riau Ir Aden Gultom MM, ketika berita resmi statistik di lantai 2 kantor BPS Riau, Rabu siang (1/8/2018).

Pada Juli 2018 lalu, lanjut Aden, Provinsi Riau mengalami inflasi sebesar 0,31 persen. Dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) 135,41. Sedangkan Inflasi Tahun Kalender sebesar 1,49 persen dan Inflasi Year on Year (Juli 2018 terhadap Juli 2017) sebesar 3,15 persen.

"Inflasi Riau Juli 2018 terjadi karena adanya kenaikan harga pada kelompok transpor, komunikasi dan jasa keuangan yang mengalami inflasi 

sebesar 0,73 persen, diikuti kelompok makanan jadi, minuman, rokok dan 

tembakau sebesar 0,56 persen, kelompok kesehatan sebesar 0,25 persen, kelompok pendidikan, rekreasi dan olahraga sebesar 0,18 persen, kelompok bahan makanan sebesar 0,13 persen, kelompok perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar sebesar 0,05 persen," papar Aden yang menerangkan perkembangan indeks harga konsumen (inflasi/deflasi) di Riau.

Sementara itu, kelompok sandang mengalami deflasi sebesar 0,07 persen. Komoditas yang memberi andil terjadinya deflasi antara lain cabai merah, angkutan antar kota, daging sapi, bawang merah, udang basah, tarif kendaraan travel dankentang.

Aden menambahkan, dari 3 kota IHK di Provinsi Riau, dua kota mengalami inflasi, yakni Pekanbaru sebesar 0,39 persen dan Tembilahan sebesar 0,22 persen. Sedangkan Kota Dumai mengalami deflasi sebesar 0,10 persen.

Dari 23 kota di Sumatera yang menghitung IHK, delapan belas kota 

mengalami inflasi, dengan inflasi tertinggi terjadi di Kota Bengkulu sebesar 0,87 persen. Diikuti oleh Tanjung Pandan sebesar 0,85 persen 

dan Meulaboh sebesar 0,71 persen. Inflasi terendah terjadi di Kota Banda Aceh sebesar 0,08 persen. (FB)