Salam Tahniah, Selamat Merayakan Hari Jadi Ke-20 Kabupaten Kuantan Singingi, Kabupaten Siak, Kabupaten Pelalawan dan Kabupaten Rokan Hulu. Sebagai daerah pemekaran baru, punya semangat dan harapan baru untuk memajukan dan menyejahterakan masyarakat tempatan menjadi negeri yang cemerlang dan terbilang. Insyaallah.***

Bahan Makanan Pemicu Terbesar Inflasi Riau

Kepala BPS Riau Ir Aden Gultom menerangkan pemicu inflasi di Riau.

Kepala BPS Riau Ir Aden Gultom menerangkan pemicu inflasi di Riau.

Fitri Burhan

Selasa, 02 Januari 2018

Pekanbaru-serantauriau.news-Desember 2017 lalu, Provinsi Riau mengalami inflasi sebesar 0,49 persen. Bahan makanan masih menjadi pemicu terbesar inflasi, seperti bulan-bulan sebelumnya.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Riau Ir S Aden Gultom, Selasa (2/1/2018), di kantornya menerangkan, sejumlah komoditas bahan makanan yang memberikan andil terjadinya inflasi di Riau antara lain, daging ayam ras, cabai merah, telur ayam ras. Lalu komoditas lainnya, rokok kretek filter,
cabai hijau, rokok kretek.

"Inflasi ini terjadi karena adanya kenaikan harga lima kelompok pengeluaran. Rinciannya, kelompok bahan makanan sebesar 1,66 persen, diikuti kelompok makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau sebesar 0,35 persen, kelompok pendidikan,
rekreasi, dan olahraga sebesar 0,09 persen, kelompok transportasi, komunikasi, dan jasa keuangan sebesar 0,06 persen, kelompok
perumahan, air, listrik, gas, bahan bakar sebesar 0,05 persen," papar Aden.

"Untuk rokok ini, sebagaimana selalu saya katakan, rokok selalu menimbulkan inflasi. Tak pernah mengakibatkan deflasi. Sebab rokok selalu saja naik harganya," tutur Aden.

Ia menambahkan, dua kelompok pengeluaran lainnya mengalami deflasi (inflasi negatif). Yakni kelompok kesehatan sebesar 0,02 persen dan kelompok sandang sebesar 0,01 persen. Sementara itu komoditas yang menahan inflasi (deflasi) antara lain kentang, tomat sayur, wortel, tomat dan jeruk.

Adapun Indeks Harga Konsumen (IHK) Riau sebesar 133,43. Sedangkan Inflasi Tahun Kalender (Januari-Desember 2017) sebesar 4,20 persen dan Inflasi Year on Year (Desember 2017 terhadap Desember 2016) sebesar 4,20 persen.

"IHK merupakan salah satu indikator ekonomi penting yang sering digunakan untuk mengukur tingkat perubahan harga barang dan jasa berupa inflasi/deflasi di tingkat
konsumen di daerah perkotaan," ungkapnya. 

Dari 3 kota yang diukur IHK di Provinsi Riau, semua kota mengalami inflasi. Antara lain Dumai sebesar 0,53 persen, Tembilahan 0,50 persen dan Pekanbaru 0,48 persen.

Dari 23 kota di Sumatera yang menghitung IHK, semua kota mengalami inflasi, dengan Inflasi tertinggi terjadi di Kota Lhokseumawe sebesar 1,69 persen, diikuti oleh Jambi 1,52 persen dan Tanjung Pandan 1,50 persen. Sedangkan inflasi terendah terjadi di Kota Metro sebesar 0,23 persen.

Di Indonesia, dari 82 kota yang menghitung IHK, semua kota
mengalami inflasi, dengan inflasi tertinggi terjadi di Jayapura sebesar
2,28 persen, diikuti Palu 1,87 persen dan Lhokseumawe 1,69 persen. Sedangkan inflasi terendah terjadi di Kota Sorong sebesar 0,18 persen. (FB)