Salam Tahniah Hari Guru kepada para Pahlawan Tanpa Tanda Jasa. Sesungguhnya jasa guru tak berbilang karena tak memang tak terbilang. Tanpamu aku bukan siapa-siapa. ***

Sempena Hari Jadi Ke-62 Provinsi Riau, Mengenang Sosok Buya Makrifat Mardjani

Hari Jadi Ke-62 Provinsi Riau: Hijau dan Bermartabat. (Foto: Logo Pemprov Riau)

Hari Jadi Ke-62 Provinsi Riau: Hijau dan Bermartabat. (Foto: Logo Pemprov Riau)

Abu Bakar Siddik

Jumat, 09 Agustus 2019

TAHNIAH Hari Jadi Provinsi Riau Ke-62. Semoga menjadi provinsi yang semakin baik dalam menghadapi segala macam tantangan menuju negeri hijau yang bermartabat. Rintangan akan selalu menghadang, tergantung bagaimana kita menyikapinya dengan tunjuk ajar dan kearifan lokal budaya Melayu.

Sempena Hari Jadi Provinsi Riau, jadi ingat sekelumit perjuangan Buya Makrifat Mardjani, saya pun berurai air mata mengenangnya kembali. Sosok Anggota Parlemen RI dari Perti Indragiri ini,  satu-satunya anak jati Melayu dapil Sumarea Tengah (di luar Sumatera Barat), yang sangat gigih memperjuangkan berdirinya Provinsi Riau sekaligus Provinsi Jambi.

Almarhum Buya yang saya kenal di akhir hayatnya 18 Juli 1989 adalah pribadi yang sederhana, teguh prinsip dan sangat peduli terhadap masa depan anak-cucu orang Melayu Riau maupun Jambi.

"Tak pantas bagi seorang pemimpin apalagi Anggota Parlemen RI, ke mana-mana berdasi, sementara rakyatnya menderita," ungkap Buya seperti ditirukan Umi Fatimah Hadi, sosok pejuang Veteran RI yang selalu setia mendampingi Buya sampai akhir hayatnya, ketika kami jumpai di Yayasan Riau Buletin, Jalan Lokomotif 44 Pekanbaru.

In memorium Buya Makrifat Mardjani ini pernah saya tulis di Tabloid Bahana Mahasiswa Universitas Riau, edisi Juli 1989, setelah mengkonfirmasikan kepada pihak keluarga Umi Fatimah Hadi dan Wagubri Baharuddin Yusuf, keduanya sudah Almarhum.

Karena kesederhanaan anak jati Riau asal Lubuk Ambacang Kuansing ini, saya sempat mempertanyakan bentuk perhatian Pemda Riau terdapat pejuang pendirian Provinsi Riau ini. Kata Pak Baharuddin, "Buya ini orangnya kokoh prinsip. Tak sama dengan orang kebanyakan. Bagaimana kita nak memberikan perhatian, sementara Buya itu yang menolak. Karena menurut beliau, akan mengurangi keikhlasannya berjuang untuk Provinsi Riau ini."

Betapa luhurnya pribadi seorang Buya Makrifat Mardjani dalam pandangan kami. Terutama ketika membaca sisi perjuangan beliau yang menantang PM Ali Sostro Amidjoyo dan Mendagri Sunaryo yang menolak pemekaran. Sehingga Buya berulang-ulang dan bertubi-tubi mencecar Pemerintah RI, hingga terbentuklah Provinsi Riau dan Provinsi Jambi, sejak 9 Agustus 1957, yang hari ini genap 62 tahun usianya.

Sisi perjuangan beliau itu tak pernah luput dari ingatan saya, sewaktu membaca Buku Sejarah Riau yang disunting Muchtar Lutfi dkk dari Universitas Riau, atau ketika melintas di Makam Buya dan Umi Fatimah Hadi di Lubuk Ambacang. Termasuk ketika kami menyeberangi Batang Kuantan di Jembatan Hulu Kuantan atau ketika kami berkunjung ke Gedung FKPMR, di mana nama beliau diabadikan.

Lebih dari itu, sosok Buya yang gigih dan sederhana itu juga telah menginspirasi kami ketika berjuang di DPRD Riau untuk kemaslahatan umat di Provinsi Riau maupun di Kabupaten Indragiri Hulu dan Kabupaten Kuantan Singingi. 

Sempena dengan peringatan Hari Jadi Ke-62 Provinsi Riau, sepatutnyalah kita mengirimkan Alfatihah kepada Buya Makrifat Mardjani dan Umi Fatimah Hadi. Semoga Allah memberi tempat yang padan di sisi-Nya. Aamiin Yra.***