Bapak Demokrasi Bangsa yang Reformis itu telah berpulang ke Rahmatullah, seiring dengan seruan Azan Maghrib, Rabu (11/9/2019) di RSPAD Gatot Subroto Jakarta. Jenazah dikebumikan Kamis (12/9/2019) di Taman Makam Pahlawan Kalibata Jakarta. Selamat jalan Prof DR Ing BJ Habibie, semoga Allah memberikan tempat terbaik di sisi-Nya dan husnul khotimah. Kami turut berduka dan Dunia Iptek pun kehilangan ilmuwan terpandang yang akan selalu dikenang. ***

Pengelolaan Sampah di Indonesia dalam Kondisi Kritis

Sampah yang berserakan di berbagai sudut kehidupan, tak hanya merusak pemandangan, karena hingga kini belum terkelola baik bahkan kondisinya sudah kritis. (Foto: ABBS)

Sampah yang berserakan di berbagai sudut kehidupan, tak hanya merusak pemandangan, karena hingga kini belum terkelola baik bahkan kondisinya sudah kritis. (Foto: ABBS)

Serantau Riau

Rabu, 04 September 2019

Bogor - serantauriau.news - Pengelolaan lingkungan terutama mengenai persoalan sampah di Indonesia bukan lagi sebatas perlu untuk dilakukan, tetapi sudah dalam kondisi kritis. Karena di semua tempat pemprosesan akhir sampah yang ada, kondisinya sudah penuh dan sudah tidak sehat.

“Walaupun  ada undang-undang yang sudah dibuat, tetapi sudah tidak bisa mengejar laju generalisasi sampah yang ada saat ini," ujar Anggota Komisi VII DPR RI Tjatur Sapto Edy saat menjadi pembicara pada diskusi panel kegiatan Parlemen Remaja Tingkat SMA/SMK/MA tahun 2019 di Wisma Griya Sabha Kopo DPR RI, Bogor, Jawa Barat, Selasa (3/9/2019).

Menurut politisi F-PAN itu, Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah yang ada perlu direvisi. Karena sudah selama 11 tahun berlaku, UU itu belum pernah direvisi. Ia menilai ada beberapa ayat tentang pengelolaan sampah plastik yang harus dimasukkan.

“Karena kondisi sampah plastik sudah dalam tahap emergency. Undang-undang tersebut bukannya tidak relevan, tetapi mungkin perlu dilakukan beberapa revisi untuk menyelaraskan dengan kondisi kekinian dengan isu yang berkembang," jelas Tjatur.

Terkait kegiatan Parlemen Remaja 2019 yang mengangkat tema isu tentang lingkungan, Tjatur menilai hal itu sudah sangat tepat dan bijak. Menurut dia, hal itu nantinya bisa menjadikan para peserta Parlemen Remaja 2019 sebagai penyelamat bumi Indonesia.

“Kita ditakdirkan oleh Tuhan Yang Maha Kuasa untuk menjadi anak Indonesia, dan kita harus bersyukur. Cara bersyukur adalah dengan mencintai, mengelola dan melindungi alam Indonesia dengan sebaik-baiknya, supaya nanti bisa diwariskan ke anak cucu dengan kondisi yang lebih baik," tuturnya.

Tjatur menegaskan, masa depan negara Indonesia ditentukan hari ini oleh anak-anak generasi penerus bangsa. Dengan kegiatan Parlemen Remaja maka diharapkan akan semakin banyak anak remaja yang tahu bagaimana cara mengelola negara ini. 

“Dan yang penting adalah mempunyai jiwa untuk mencintai lingkungan  dan alam ini, supaya kehidupan kita ke depan juga lebih baik daripada sekarang," tandas Tjatur.

Di negara-negara maju, sambungnya, banyak anak remaja yang punya cita-cita untuk menjadi anggota parlemen,  tetapi di Indonesia sendiri memang masih belum banyak. Selain itu,  banyak negara lain yang telah menggalakkan wisata parlemen, sehingga masyarakat mempunyai sense of belonging terhadap parlemen.

“Oleh karenanya, dengan ajang Parlemen Remaja ini mungkin akan banyak anak remaja Indonesia yang bercita-cita untuk menjadi anggota parlemen. Saya berharap, kualitas parlemen Indonesia ke depan harus jauh lebih bagus dari yang sekarang," pungkas legislator dapil Jawa Tengah VI itu, seperti dilansir dari laman DPR RI. (dep/sf)