Selamat Idulfitri 1 Syawal 1441 Hijriyah./ 24 Mei 2020 Masehi. Selamat merayakan hari kemenangan dan kembali kepada insan yang fitri, hasil tempaan bulan suci Ramadan. Minal Aidin Walfaizin, Maaf Lahir dan Batin.***

Fenomena "Seven Ghost Bono" Bagi Peselancar Dunia

Antony Colas dari negara Menara Effel dan sejumlah peselancar mancanegara bertekad untuk menjinakkan keganasan Bono di muara Sungai Kampar yang tidak kalah dengan China dan Brasil. (Foto: Dok MCR)

Antony Colas dari negara Menara Effel dan sejumlah peselancar mancanegara bertekad untuk menjinakkan keganasan Bono di muara Sungai Kampar yang tidak kalah dengan China dan Brasil. (Foto: Dok MCR)

Serantau Riau

Rabu, 20 November 2019

Telukmeranti - serantauriau.news - Siapa yang tidak mengenal ombak Bono? Ombak dengan skala 5 atau level tertinggi di dunia ini, menjadi fenomenal dan memberi tantangan tersendiri bagi para peselancar dunia yang ingin menjajalnya.

Antony Colas dari negara Menara Effel, mengatakan, keganasan Seven Ghost Bono di muara Sungai Kampar ini tidak kalah dengan Negara China dan Brasil. Bono memang tidak hanya ada di Indonesia, melainkan ada di 34 negara.

"Akan tetapi namanya saja yang berbeda. Kalau di Malaysia, Benak. Di China ataupun Brasil lain lagi namanya. Di Indonesia ada 3 tempat yang mirip Bono, di Riau ada Teluk Meranti dan Rokan Hulu, Kalimantan serta Papua," sebut Antony yang sudah melanglang buana ke 15 negara tersebut.

Antony melanjutkan, terjadinya Bono dikarenakan gelombang pasang yang bertemu dengan delta - delta (endapan pasir) yang membentuk aliran dangkal di sepanjang aliran muara. Kecepatan Bono ditafsirkan mempunyai kecepatan lebih kurang 80 km/jam hingga menyerupai Tsunami.

"Momen ombak Bono terjadi setiap tahun, namun gelombang besar terjadi pada akhir tahun, bulan November dan Desember hingga berakhir awal Januari," ujar Antony.

Keunikan Bono, banyak dicari bule-bule mancanegara. Tak pelak, mereka berlomba-lomba menaklukkan ganasnya ombak Bono. Terbukti pada 11-14 November 2019 kemarin, 8 peselancar dunia ingin menjinakkan Bono.

Masyarakat tempatan pun tak kalah dengan peselancar luar negeri. Ruzi Hartono dari Indonesia menyabet peringkat dua dalam festival Bono yang ditaja oleh Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pelalawan ini. Sedangkan peringkat pertama diraih oleh Daniel de Klerk dari Afika Selatan dan Michael dari Hongkong urutan ketiga.

Sementara itu Michael (Hongkong) mengatakan, ini kali pertama dia datang ke Telukmeranti dan ingin menaklukan Bono.

"Sebelumnya saya main selancar hanya di laut. Saya ingin mencari tantangan bermain di Sungai Kampar ini," sebutnya.

Saat ditanya, tantangan mana yang berat berselancar di laut atau sungai, ia mengatakan tantangan di laut lebih berbahaya dibandingkan dengan sungai. Karena karang-karang batu dan ikan hiu halangan bagi para peselancar. (MCR/Exa)