Visi Riau 2020: Terwujudnya Provinsi Riau sebagai Pusat Perekonomian dan Kebudayaan Melayu dalam lingkungan masyarakat yang agamis di Asia Tenggara pada tahun 2020***

Trek Terdampak Asap, Harga Sawit Pun Meroket Jatuh

Kabut asap telah menyebabkan berbagai macam tumbuhan dan buah kelapa sawit, terhambat produksinya, karena buah tak kunjung mekar dan layu. (Foto: Dok SRN)

Kabut asap telah menyebabkan berbagai macam tumbuhan dan buah kelapa sawit, terhambat produksinya, karena buah tak kunjung mekar dan layu. (Foto: Dok SRN)

Serantau Riau

Sabtu, 14 Maret 2020

Telukkuantan - serantauriau.news - Panas panjang beserta asap di akhir tahun 2019 hingga mencapai kurang lebih 6 bulan lamanya di daerah riau masih terasa efeknya sampai sekarang, terutama bagi petani perkebunan sawit.

Asap tersebut menyebabkan berbagai macam tumbuhan dan buah-buahan, terhambat produksinya, karena buah tak kunjung mekar dan layu disebabkan asap.

Setiap tahunnya petani sawit pasti merasakan trek, atau kurangnya produktivitas buah, tetapi pada tahun ini terbilang sangat parah. Ditambah lagi harga murah, dan buah sawit tak kunjung masak. "Itu diakibatkan kabut asap beberapa bulan lalu," sebut Asdi, petani sawit di Kecamatan Logas Tanah Darat.

Petani berharap kepada dinas terkait, agar mencarikan solusi ketika buah sawit trek, tidak ada penurunan harga dan diharapkan kestabilan harga setiap perusahaan. 

Soalnya, kalau keadaan seperti ini akan berlanjut, bisa jadi perkebunan sawit menjadi lahan tidur, semakin hari semakin berkurang buahnya, diakibatkan pembakaran lahan yang menimbulkan asap. "Berikan tindakan terhadap pelaku pelaku yang membakar lahan ratusan hektar, jangan hanya petani yang ditindaki," sebut Asdi.

Sementata itu, Andri Satria menyebutkan, keadaan ini diperparah oleh harga semakin turun. Karena tidak sesuai dengan hasil produktivitas pada saat ini. Sedangkan kebun yang terawat saja, masih jauh produktivitasnya, apalagi kebun yang tidak terawat. 

"Karena itu, pemerintah tolong menstabilkan harga, dan membantu solusi bagi masyarakat yang bergantung pada perkebunan sawit. Bukan hanya sawit, harga karet pun meroket turun, sehingga perekonomian masyarakat tidak kunjung normal, malah semakin anjlok," ungkap Mahasiwa Pasca Sarjana UIR ini.

Semoga saja Dasboard Lancang Kuning yang baru diluncurkan oleh pihak kepolisian dapat membantu masyarakat untuk mendekteksi titik api. Sehingga keadaan seperti ini tidak akan terulang lagi," tutup Andri. (SRN)