Selamat Idul Adha, 10 Zulhijjah 1443 H. Semoga kita dapat meneladani ketaatan dan keikhlasan serta kesabaran Ibrahim AS, Ismail AS dan Siti Hajar RA. dalam melaksanakan perintah Qurban. Mohon maaf lahir dan batin. ***

 

Apkasindo Sebut Harga TBS Sawit Justru Naik Ketika Importir CPO "Lockdown"

Pada situasi sulit ini, harus ditunjukkan kepahlawanan, nasionalisme pengusaha Kelapa Sawit, dengan cara tetap membuka operasional Pabrik Kelapa Sawit (PKS), dan tetap melayani pembelian TBS petani. (Foto: Dok MCR)

Pada situasi sulit ini, harus ditunjukkan kepahlawanan, nasionalisme pengusaha Kelapa Sawit, dengan cara tetap membuka operasional Pabrik Kelapa Sawit (PKS), dan tetap melayani pembelian TBS petani. (Foto: Dok MCR)

Serantau Riau

Rabu, 01 April 2020

Pekanbaru - serantauriau.news - Ketua Umum DPP Apkasindo (Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia) Gulat ME Manurung menjelaskan, beberapa negara pengimpor Kelapa Sawit mulai melakukan lockdown.

Akibatnya negara-negara tersebut akan mengunci semua aktifitas bisnis dari dan menuju negara tersebut. Hal ini sangat berdampak kepada bisnis sawit khususnya bagi negara penghasil Crude Palm Oil (CPO).

China dan India sebagai negara tujuan ekspor terbesar CPO sudah melakukan lockdown, jelas akan sangat mempengaruhi serapan dan tujuan ekspor CPO Indonesia, terbukti dari menurunnya volume ekspor CPO sebulan terakhir.

Ini merupakan efek kejut yang sudah diperkirakan oleh pelaku ekspor yang sangat barang tentu berpengaruh kepada harga TBS di tingkat petani Sawit Indonesia.

Untungnya Negara Malaysia sebagai saingan Indonesia sebagai negara eksportir CPO menyusul India dan China melakukan kebijakan  lockdown. Dampak Malaysia melakukan  lockdown  adalah bahwa dunia hanya sangat bergantung kepada CPO Indonesia dan sedikit dari Thailand.

Karena itulah harga CPO dunia mulai terkerek naik dan menguntungkan kita. Harga TBS saat ini juga sudah mulai naik dengan rerata Rp. 150-250/Kg TBS dan trend akan terus terkatrol.

Hal ini sangat menguntungkan posisi harga TBS, khususnya Petani sawit yang mengelola 41 persen perkebunan Kelapa Sawit di Indonesia. "Saya memperkirakan harga TBS masih akan terkoreksi naik (tren positif) ke depannya," terang Gulat Manurung.

Namun demikian, tambah dia, negara dan khususnya eksportir CPO harus semakin jeli memanfaatkan kondisi saat ini yaitu dua negara importir terbesar CPO Dunia sudah Lockdown diikuti pesaing Indonesia sebagai penghasil CPO terbesar kedua setelah Indonesia yaitu Malaysia.

Menurut dia, hal ini merupakan peluang sekaligus tantangan buat kita negara penghasil CPO. Selain itu, perlu disiasati bagaimana strategi meningkatkan serapan CPO untuk dalam negeri, seperti pengolahan CPO menjadi Fame bahan baku Biodiesel baik untuk siap campur dengan solar murni atau memperbanyak stok bahan baku campuran Biodisel.

Peningkatan pemanfaatan produk turunan CPO menjadi cadangan material juga merupakan hal penting menyiasati lockdown-nya negara importir CPO.

"Ini menjadi pelajaran penting buat kita supaya tidak mutlak tergantung kepada produk sebatas CPO. Sebagai catatan bahwa produksi CPO kita 2019 mencapai 46 juta ton dengan konsumsi dalam negeri 13,4 juta ton (30 persen)," paparnya. 

Dengan telah berjalannya B30 di tahun 2020 awal, maka dia memperkirakan serapan dalam negeri bisa mencapai 40-45 persen. "Memang amannya harga CPO dunia menurut saya jika kita berhasil menyerap lebih dari 60 persen produksi CPO kita," ujar Gulat yang juga merupakan Auditor ISPO ini.

Sebagai organisasi besar, yang membawahi 22 DPW Provinsi dan 117 DPD kabupaten/kota seluruh Indonesia, Apkasindo menghimbau Petani Sawit Indonesia, supaya menekan biaya produksi, seperti biaya-biaya yang tidak perlu supaya ditahan dulu, atau mengurangi biaya rotasi pengendalian gulma, mengurangi dosis pemupukan.

"Dari segi non-agronomis, saya juga berharap kepada Petani Sawit supaya meningkatkan kepedulian sosial dan mematuhi himbauan pemerintah. Jika  petani 'membandel' maka akan sangat merugikan bukan hanya kepada diri sendiri, akan berdampak global," kaya Gulat.

Menurut dia, negara masih berupaya sekuat tenaga untuk tidak melakukan lock down,  Petani Sawit sebagai warga negara Indonesia wajib mendukung dan membantu negara untuk bisa bertahan dalam situasi saat ini.

Jangan sampai negara mengambil kebijakan lockdown gara-gara masyarakat tidak displin sehingga semakin meningkatkan penyebaran Covid-19 ini. Saya tidak bisa membayangkan bagaimana ngerinya jika Indonesia sampai lockdown. Ini saatnya terkhusus Petani Sawit Indonesia melakukan aksi Bela Negara melalui disiplin mengikuti anjuran pemerintah.

Di saat situasi sulit saat ini, harus tunjukkan kepahlawanan, nasionalisme pengusaha Kelapa Sawit, dengan cara tetap membuka operasional Pabrik Kelapa Sawit (PKS), dan tetap melayani pembelian TBS petani yang menghidupi 18 juta Petani Sawit Indonesia belum lagi pekerja dan buruh tani lainnya yang terkait dengan sawit.

"Sepanjang Indonesia tidak mengambil kebijakan lockdown, maka tidak ada alasan PKS tutup. Ayo tunjukkan PKS adalah Pahlawan Indonesia," ujar Gulat.

Dengan mempertahankan tanpa lockdown, masyarakat dan Pengusaha Indonesia wajib Bela Negara melalui perannya masing-masing. Pahlawan Indonesia adalah ketika rakyat ikut membela kepentingan nasional tanpa lockdown, biarlah sejarah dunia mencatat bahwa warga negara Indonesia adalah bangsa petarung yang terkenal dengan istilah gotong-royongnya. (MCR/mtr)