serantauriau.news mengucapkan Tahniah Hari Jadi Ke-237 Pekanbaru yang berkembang pesat dari Dusun Payung Sekaki menjadi Senapelan sebagai cikal bakal Kota Pekanbaru, Ibukota Provinsi Riau, 23 Juni 2021.***

 

Pijar Melayu dan IG Kuansing Bacarito Taja BERPIJAR Merawat Warisan Budaya Kuantan Sebagai Tamadun Melayu Tua

Kegiatan Berpijar ini, menghadirkan Narasumber  Kadisbud Provinsi Riau R Yoserizal Zen, Budayawan Riau Prof Suwardi MS, Sekdakab Kuansing DR Dianto Mampanini SE MT dan Ketua Umum MKA LAMR Kabupaten Kuansing Datuk Seri Pebri Mahmud, dipandu Dt Bujang Indra ST. (Foto: Pijar Melayu)

Kegiatan Berpijar ini, menghadirkan Narasumber Kadisbud Provinsi Riau R Yoserizal Zen, Budayawan Riau Prof Suwardi MS, Sekdakab Kuansing DR Dianto Mampanini SE MT dan Ketua Umum MKA LAMR Kabupaten Kuansing Datuk Seri Pebri Mahmud, dipandu Dt Bujang Indra ST. (Foto: Pijar Melayu)

Serantau Riau

Ahad, 26 Juli 2020

 

Pekanbaru - serantauriau.news  - Guna memahami dan menggali wawasan sejarah juga budaya di Kabupaten Kuantan Singingi (Kuansing), Pijar Melayu bersama Instagram Kuansing Bacarito menggelar kegiatan Berdiskusi Pakai Jaringan (Berpijar), Kamis (23/7/2020). Berpijar yang digelar via Zoom aps itu mengangkat tema Merawat Warisan Budaya Kuantan Sebagai Tamadun Melayu Tua.

Kegiatan Berpijar belum lama ini, menghadirkan empat Narasumber yaitu Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi Riau R Yoserizal Zen, Budayawan Riau Prof Suwardi MS, Sekretaris Daerah Kabupaten Kuansing DR Dianto Mampanini SE MT dan Ketua Umum MKA Lembaga Adat Melayu Riau (LAMR) Kabupaten Kuansing Datuk Seri Pebri Mahmud, dipandu oleh Dt Bujang Indra ST sebagai moderator.

Direktur  Eksekutif Pijar Melayu Rocky Ramadani menyampaikan ide pelaksanaan kegiatan tersebut ialah bagian dari sikap dan upaya Pijar Melayu sebagai lembaga kajian strategis yang konsen di bidang kebudayaan untuk mendukung setiap wilayah peradaban Melayu dalam melestarikan budaya dan warisan-warisan yang ada. "Perlu kita ketahui, di Kuansing tepatnya di Lubuk Jambi sekarang ada kerajaan Kandis yang menurut sejarah merupakah kerajaan tertua yang berdiri di Indonesia pada abad 1 sebelum masehi. Terkait sejarah dan warisan-warisan budaya yang sampai sekarang masih ada tentu menjadi penting untuk kita ketahui dan merawatnya secara bersama," ujarnya kepada wartawan Jumat petang (24/7/2020) di Pekanbaru.

Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi Riau R Yoserizal Zen, dalam paparannya mengatakan strategi untuk kemajuan kebudayaan itu telah tertuang dalam Undang-undang No 5 tahun 2017 tentang pemajuan kebudayaan. Yang mana di dalamnya termaktub berbagai langkah dan perhatian pemerintah dalam memberikan sarana dan prasarana bagi komunitas, pelaku budaya dan masyarakat adat yang ada di Indonesia. 

Destinasi pariwisata budaya/sejarah dan warisan budaya takbenda yang sangat banyak di Kuansing, merupakan potensi yang harus dimanfaatkan bahkan disuguhkan pada wisatawan yang berkunjung. Hal ini mengingat destinasi dan warisan budaya takbenda tidak ditemui di negara atau negeri mereka. Contoh, Randai Kuantan, Silat Pangean, Perahu Begandung dan Pacu Jalur cuma ada di Kuansing. Apalagi keempatnya sudah diakui sebagai warisan budaya takbenda asal Kuansing oleh Pemerintah Indonesia. “Ini harus dilakukan pembinaan dan penyelamatannya, bila tidak ingin semuanya punah,” ujar Yose.

Ia menambahkan, keempat budaya tersebut sebenarnya hanya sebagian kecil dari warisan budaya yang ada di Kuansing. "Dari yang kita lihat potensi di Kuansing masih banyak warisan budaya tak benda yang juga berhak mendapat pengakuan dari pemerintah Indonesia, hanya saja sampai saat ini belum bisa tergarap dengan maksimal. Saya pikir ini menjadi tugas kita bersama untuk kemajuan budaya di Riau, khususnya Kuansing," imbuh Yose.

Di kesempatan yang sama, Budayawan Riau Prof Suwardi MS bercerita sedikit soal kerajaan tua yang pernah berdiri di Kuantan beserta bukti-bukti dan peninggalannya. Dijelaskan, dari dunia penerbitan di Indonesia yang ia terima bahwa Kerajaan Kandis di Kuantan telah berdiri sejak abad pertama sebelum Masehi. 

"Dalam penelitian bukti sejarah yang ditemukan, berupa lempengan emas bertuliskan bahasa Melayu menurut ahli dibuat sekitar abad 8 Masehi hingga abad 13 Masehi dan ibukotanya Dhamna, di Bukit Betabuh. Di situ juga ditemukan bukti sejarah yakni gunung piramid," terang pakar sejarah ini.

Menurut dia, Negeri Kuantan sekarang adalah negeri tua. Anak-anak muda masa kini harus memiliki pemahaman sejarah mulai dari awal lahirnya peradaban Melayu tua itu. Dalam periodesasinya, telah ditemukan bukti-bukti prasejarah yang ada di Logas pada tahun 2010. Di tahun 2016 lalu ditemukan megalitikum yakni batu punden berundak yang merupakan bukti sejarah peradaban Melayu tua di Cerenti. "Oleh karena itu, saya pikir pentingnya usaha kita untuk merekonstruksi kembali peristiwa-peristiwa itu dari berbagai sumber. Baik itu peninggalan purbakala, peninggalan zaman logam maupun zaman satelit yang mana tertulis abad ke-13 sudah ada bentuk pemerintahan yang kuat di Kuantan. Diperlengkap oleh lembaga/masyarakat adat yang disebut dengan Kuantan sebagai oso kuang duo puluah yang dimulai dari abad 13 dan berakhir tahun 1905" ujar Prof Suwardi.

Berbicara soal perawatan warisan budaya yang ada, Ketua Umum MKA LAMR Kabupaten Kuansing Datuk Seri Pebri Mahmud mengatakan di Negeri Kuantan tentu ada warisan benda dan warisan takbenda. "Kepada Pemerintahan Kuansing, melalui Dinas Pariwisata dan Kebudayaan hendaknya membuatkan replika dari warisan-warisan budaya yang dipegang oleh pemangku-pemangku adat Negeri Kuantan untuk kita pajang di museum. Sementara, warisan budaya tak benda, di sini saya fokuskan tentang adat kita ini. Di masa kini, generasi tua dan muda harus bisa bekerja sama dengan baik dalam hal memberikan, mentransfer pengetahuan soal warisan / pengetahuan masa lampau itu agar tidak hilang dari ingatan," ujarnya.

Pemerintah Kabupaten Kuansing melalui Sekda DR Dianto Mampanini SE MT memberi apresiasi atas berlangsungnya kegiatan Berpijar. 

Namun, ia meluruskan bahwa berdasarkan data yang mereka miliki ada 5 warisan budaya takbenda asal Kuansing yang sudah mendapat SK dari Kemendikbud. "Yaitu Pacu Jalur, Randai Kuantan, Perahu Baganduang, Kayat Rantau Kuantan dan Silat Pangean. Tiga di antaranya, yakni Pacu Jalur, Perahu Baganduang dan Silat Pangean sedang kita upayakan untuk menjadi warisan budaya Dunia," terang Sekda.

Diakuinya, sebelumnya pemerintah daerah sudah melakukan usaha-usaha untuk merawat warisan budaya yang ada di Kuansing. Salah satunya, melakukan kajian-kajian tentang keberadaan warisan budaya di Kuansing.

"Namun ini masih kurang maksimal, ke depannya kita berusaha untuk memiliki tenaga ahli cagar budaya. Kemarin sudah dipersiapkan 3 orang untuk dijadikan calon tenaga ahli cagar budaya, namun karena Covid-19 ini tinggal 1 lagi yang akan kita usulkan ke provinsi dan insya Allah ini bisa diterima," tutup Dianto. (*/SRN)