Tahniah  Hari Jadi Ke-64 Provinsi Riau, 9 Agustus 2021 dan HUT Ke-76 Kemerdekaan RI, 17 Agustus 2021. Semoga cepat bangkit dan bebas dari belenggu pandemi. Dirgahayu Provinsi Riau! Dirgahayu Republik Indonesia!***

 

Selamat Jalan Mitra-Debatku Bang Emrizal Pakis, Semoga Husnul Khotimah

DR H Emrizal Pakis, Ketua KONI Riau. (Foto: Dok FB Fendri Jaswir)

DR H Emrizal Pakis, Ketua KONI Riau. (Foto: Dok FB Fendri Jaswir)

ABU BAKAR SIDDIK

Sabtu, 24 April 2021

 

SUATU KETIKA, di penghujung tahun 2006, kami sempat berkumpul di Ruang Dirjen BKD Depdagri untuk tujuan verifikasi APBD Provinsi Riau 2007, setelah disahkan bersama antara Gubernur Riau HM Rusli Zainal SE MP mewakili eksekutif dan Drh H Chaidir MM mewakili legislatif. 

Dari unsur Pemerintah Provinsi Riau yang hadir di Depdagri, waktu itu, adalah Sekdaprov HR Mambang Mit selaku Ketua Tim Anggaran Pemerintah Daerah (TAPD) bersama Sekretaris TAPD yang juga Ketua (penyebutan dulu) Bappeda Riau Emrizal Pakis dan sejumlah Anggota TAPD lainnya. Sementara dari legislatif langsung turun Ketua DPRD Riau Chaidir selaku Ketua Panitia Anggaran (Panggar) didampingi para Wakil Ketua dan sejumlah Anggota Panggar.

Sembari menunggu kedatangan Dirjen BKD, tiba-tiba saja Pak Mambang Mit menyatakan, "Jembatan Baserah akan diberi nama Jembatan Abu Bakar Siddik, Pak Ketua," ungkap Sekdapeov Riau kepada Ketua DPRD Riau. Saya sempat kaget dan melihat Ketua DPRD Riau sempat membatin seketika.

Lebih terkesima lagi saya ketika Ketua Bappeda Emrizal Pakis tiba-tiba nyerocos. "Sebenarnya, Pak Sekda, Jalur Lintas Selatan di Inhu-Kuansing itu juga akan mengabadikan nama Jalan Abu Bakar Siddik," tutur Emrizal tak kalah semangat.

Terlepas dari alasan pengabadian nama tersebut, Bang Chaidir secara bijaksana menyampaikan argumentasi begini, "Biasanya Adinda, pengabadian nama itu, setelah orangnya sudah tiada," papar Bang Chaidir yang langsung saya timpali, "Semoga beliau-beliau ini mendoakan saya berumur panjang, Pak Ketua," kata saya dan diaminkan oleh segenap hadirin.

Memang sebelum sampai pada tahap verifikasi di Depdagri, beberapa bulan sebelumnya kami sempat membahas sengit APBD Riau, khususnya menyangkut kelanjutan pembangunan Jembatan Baserah yang sudah dimulai penganggarannya 1 miliar di tahun 2004 dan 700 juta di tahun berikutnya.

Ketika saya masuk sebagai Pengganti Antar-Waktu di DPRD Riau, saya sempat mempertanyakan, logika pembangunan mana yang dipakai Bappeda, membangun jembatan senilai 57 miliar dengan hanya menganggarkan 1 miliar pertahun, sehingga perlu waktu 57 tahun, sementara umur jembatan hanya berkisar 30-an tahun.

Ketua DPRD Riau yang memimpin Rapat Panggar sempat mempertanyakan pada ruas ruas jalan mana jembatan itu dibangun? "Jalan nasional, bukan, jalan provinsi juga bukan. Berarti jembatan itu jembatan bukan-bukan," ungkap Chaidir membuat saya meradang.

"Sekarang bukan saatnya lagi mempersoalkan status jembatan, karena sudah dianggarkan beberapa kali di APBD Provinsi Riau. Lagi pula, Jembatan Baserah itu membelinya di atas Batang Kuantan/Sungai Indragiri yang menjadi kewenangan provinsi dan pusat. Jadi, di mana letak bukan-bukannya?" ungkap saya tak kalah sengit.

Maka yang paling banyak membalas argumentasi saya dalam Rapat Panggar dengan TAPD itu adalah Pak Emrizal Pakis dengan berbagai alasan, keterbatasan anggaran, walau kadang sulit diterima. 

Maka pembahasan alot itu menemui jalan buntu. Saya minta dianggarkan untuk Jembatan Baserah 10 miliar pada tahun 2007. Kata Ketua Bappeda, anggarannya tak ada untuk itu. Padahal yang saya tahu selalu ada cara atau solusi untuk mengatasi masalah semacam itu. Maka kepanikan menjelang Maghrib itu tak terhindarkan. 

Saya terpaksa membanting mikrofon membuat suasana gaduh, menggelegar dan membalikkan meja, sehingga persidangan terpaksa diskor. "Kalau bertempur sesama Inhu, saya tak ikut campur," ungkap Pak Sekda yang langsung saya respon. "Tak bisa Pak Sekda Ketua TAPD yang paling bertanggung jawab dalam kemelut ini!"

Selama skor sekitar setengah jam, terjadi lobi-lobi intensif antara TAPD dan Panggar, khususnya membahas Jembatan Baserah. Alhamdulillah keinginan saya memulai pembangunan Jembatan Baserah dengan anggaran 10 miliar itu dikabulkan walaupun diatasi dua kali 5 miliar dalam APBD murni dan perubahan. 

Setelah itu, situasi pembahasan menjadi lancar dan sangat kondusif, hingga rampungnya Jembatan Baserah yang bersamaan dengan Jembatan Cerenti, disusul Jembatan Pangean dan Jembatan Inuman. Termasuk pembangunan Jalan Provinsi di Jalur Lintas Selatan. Sementara Jembatan Gunung Toar dan Jembatan Saik yang baru tahap perencanaan DED sudah tak keburu lagi.

"Itulah gunanya kita harus kuat berargumentasi untuk pembangunan kampung halaman kita Adinda," tutur Bang Emrizal Pakis usai penganggaran Jembatan Baserah, yang kembali terngiang, ketika sekitar jam 9.30 WIB, Sabtu (24/4/2021) saya mendapat kabar dari sejawat saya, Ir Fendri Jaswir melalui Medsos tentang kepergian Ketua KONI Riau Bang Emrizal Pakis untuk selamanya. 

Selamat jalan Kakanda DR Emrizal Pakis yang menjadi mitra-debatku selama ini. Semoga Allah memberi tempat terbaik bagimu di sisi-Nya dan husnul khotimah. Amiin Yra.***