Tahniah  Hari Jadi Ke-64 Provinsi Riau, 9 Agustus 2021 dan HUT Ke-76 Kemerdekaan RI, 17 Agustus 2021. Semoga cepat bangkit dan bebas dari belenggu pandemi. Dirgahayu Provinsi Riau! Dirgahayu Republik Indonesia!***

 

Merdeka Pendidikan Bagi Anak-anak Suku Talang Mamak: Kolaborasi

Mereka merdeka di dalam kawasan, tidak diganggu, dan mendapatkan manfaat dari hasil hutan bukan kayu untuk memenuhi kehidupan sehari-hari. Sementara untuk hak dasar pendidikan bagi anak-anak Suku Talang Mamak di dalam kawasan, hanya bisa dipenuhi melalui sanggar belajar. (Foto: Ook Ist)

Mereka merdeka di dalam kawasan, tidak diganggu, dan mendapatkan manfaat dari hasil hutan bukan kayu untuk memenuhi kehidupan sehari-hari. Sementara untuk hak dasar pendidikan bagi anak-anak Suku Talang Mamak di dalam kawasan, hanya bisa dipenuhi melalui sanggar belajar. (Foto: Ook Ist)

serantauriau.news

Selasa, 17 Agustus 2021

DR Afni Zulkifli MSi, Catatan (1) Perjalanan Ke Taman Nasional Bukit Tigapuluh

 

NAMANYA Citra. Usianya 8 tahun. Bersama teman-temannya, langkah kaki kecil Citra penuh semangat menuju bangunan sederhana yang mereka sebut sekolah. Sebuah tas kecil disandang, senyumnya merekah tanda senang, riang. 

Bangunan sederhana itu berada di Dusun Sadan, 'jantung utama' Taman Nasional Bukit Tigapuluh (TNBT) yang berada di wilayah Indragiri Hulu, Provinsi Riau. Sebagian wilayah taman nasional ini juga berada di Provinsi Jambi.  

Ini bukan sekolah formal pemerintah, melainkan sekolah marjinal yang diberi nama sanggar belajar Sadan. Berdiri sejak tahun 2007, atas kerja sama Balai TNBT, Program Penyelamatan Harimau Sumatera (PKHS) dan Yayasan Pelita Talang Mamak. 

Suku Talang Mamak memang sudah bermukim jauh sebelum TNBT ditetapkan tahun 1995. Mereka hidup tentram dan damai di dalam kawasan, berbagi 'rumah' dengan Harimau Sumatera, Gajah, dan satwa endemik Indonesia lainnya. 

Nyaris tidak pernah terdengar terjadi konflik melibatkan Suku Talang Mamak di dalam kawasan, karena mereka hidup bersebati dengan alam. Mereka mengambil manfaat hutan tanpa merusaknya. Menjaga hutan layaknya menjaga rumah.

Seiring berjalannya waktu, dengan terbukanya akses transportasi melalui Sungai Batang Gansal yang 'membelah kawasan' TNBT, masyarakat Suku Talang Mamak mulai 'terkontaminasi' kehidupan moderen, dan perlahan memilih hidup keluar dari kawasan. Namun sebagian dari mereka, tetap memilih tinggal di dalam kawasan, hidup dengan cara tradisional, dan memiliki hubungan erat untuk ikut menjaga keberadaan taman nasional.

Mereka merdeka di dalam kawasan, tidak diganggu, dan mendapatkan manfaat dari hasil hutan bukan kayu untuk memenuhi kehidupan sehari-hari. Sementara untuk hak dasar pendidikan bagi anak-anak Suku Talang Mamak di dalam kawasan, hanya bisa dipenuhi melalui sanggar belajar.

Sanggar ini memiliki sekitar 40-an murid, yang berasal dari anak-anak di Dusun Sadan, Dusun Air Bomban, dan Dusun Suit. Tiap dusun terdapat sekitar 17-25 KK saja. Untuk menuju ke sanggar belajar, anak-anak dari dusun lainnya harus menyeberang sungai, melewati hutan, dan baru sampai setelah berjalan kaki sekitar 30 menit.

Rute ini mungkin menjadi berat bagi kita yang tak terbiasa. Namun bagi anak-anak ini, TNBT adalah rumah ternyaman yang mereka punya. Kenyamanan versi masyarakat Suku Talang Mamak di dalam TNBT, tentu tidaklah bisa disamakan dengan kenyamanan versi saya dan Anda sebagai orang yang tinggal di luar kawasan, apalagi bagi kita yang hidup di perkotaan. 

''Taman Nasional adalah rumah kami. Tanpa TNBT, mungkin hutan-hutan kami sudah lama rusak. Kami hidup dari hutan, harus menjaga hutan, karena hutan telah memberi kehidupan secara turun-temurun, hingga ke anak cucu kami,'' begitulah keyakinan umum masyarakat Suku Talang Mamak yang saya temui di berbagai dusun.

Pendidikan yang menjadi hak dasar bagi anak-anak Suku Talang Mamak, telah lama menjadi perhatian Balai TNBT. Anak-anak yang ikut di sanggar belajar Sadan, tetap akan ikut ujian nasional di sekolah formal yang berada di luar kawasan. 

Sering muncul pertanyaan klasik, kenapa tidak dibangun saja akses jalan untuk masyarakat di dalam kawasan? Mengapa tidak dibangunkan rumah sekolah permanen? Jawaban pertanyaan ini sederhana saja: Karena ini adalah taman nasional, yang memang seharusnya tidak boleh terganggu dan diganggu sesuai peruntukannya. 

Taman nasional adalah kawasan pelestarian alam yang mempunyai ekosistem asli, dikelola dengan sistem zonasi. Fungsi utamanya untuk perlindungan sistem penyangga kehidupan, melestarikan keanekaragaman jenis tumbuhan dan satwa agar bisa dinikmati generasi mendatang, pemanfaatan secara lestari sumber daya alam dan ekosistemnya.

Contoh sederhananya, bila dibuka akses jalan menuju dan dari zona inti, maka dikhawatirkan akan membuka akses bagi pelaku illegal logging, ataupun para pemburu yang bisa mengancam kelestarian taman nasional. Untuk itu Taman Nasional harus benar-benar 'perawan' dari akses keluar masuk manusia selain untuk tujuan khusus.

Namun berhubung masyarakat suku talang mamak ini bagian tak terpisahkan dari TNBT, maka pihak balai membuka 'pintu seluas-luasnya' bagi pemerintah daerah untuk masuk memenuhi hak dasar pendidikan, terutama bagi anak-anak Suku Talang Mamak yang juga bagian dari masyarakat Kabupaten Indragiri Hulu. 

Namun yang menjadi masalah utamanya adalah mencari guru yang benar-benar mau mengabdi mengajar anak-anak Suku Talang Mamak di dalam kawasan TNBT ini. Sulit sekali mencari yang betah tinggal di dusun dalam kawasan, meski sudah berulang kali diutus oleh Pemkab Inhu.

Hal ini bukanlah tanpa sebab. Sangat dimaklumi. Rute menuju Sadan, misalnya, memang bukan kepalang susahnya. Dari titik terakhir yang bisa dilalui kendaraan atau dari Lemang, menuju ke Sadan perlu waktu sekitar 7 jam menaiki perahu kayu dengan mesin motor 15 PK. Jika menyewa maka perlu biaya PP antara Rp500-800 ribu. Belum lagi rute sungai Batang Gansal yang seperti arena arung jeram, membutuhkan perjuangan tersendiri. Selain itu, tidak ada listrik, apalagi sinyal handphone. Sesulit dan sedramatis itu. 

Atas dukungan dari pihak TNBT dan mitra kerjanya, beberapa tahun terakhir ada dua guru yang mengajar anak Suku Talang Mamak di dalam kawasan TNBT. Jumiarti (22) dan Desi Maryani (24). Keduanya alumni Sanggar belajar Sadan juga. Keduanya kakak beradik, anak Pak Kijang, salah satu tokoh masyarakat Suku Talang Mamak Dusun Sadan. 

Jumiarti tamat D3 kebidanan, menjadi anak Suku Talang Mamak di dalam kawasan yang berpendidikan paling tinggi di Dusun Sadan. Sementara Desi Maryani menamatkan SMA di Belilas. Setamat dari sanggar belajar Sadan, mereka memang memilih keluar kawasan untuk melanjutkan pendidikan.

Saat sudah bisa mengantongi ijazah SMA dan DIII, keduanya kembali menjadi guru bagi anak-anak Suku Talang Mamak lainnya yang masih berada di dalam kawasan. Jumiarti sebenarnya bercita-cita menjadi bidan pertama di dusun mereka, sementara Desi aslinya tak pernah bercita-cita menjadi guru. Namun keduanya tetap rela menjadi guru demi mengajar anak-anak dusun mereka.

Mereka mengajarkan segala ilmu pada anak-anak Suku Talang Mamak dari tiga dusun. Tidak ada kurikulum sekolah yang jadi rujukan. Ilmu yang paling utama hanya baca, tulis, hitung. ''Biar tidak kena tipu kalau menjual jernang, damar, petai (dan hasil hutan bukan kayu lainnya) saat keluar kawasan,'' begitu saja target utama mereka.  

Kedua 'Guru dadakan' ini tidak mendapat gaji pemerintah daerah, melainkan hanya menerima honor dari Yayasan Pelita Talang Mamak, dan dari Program Konservasi Harimau Sumatera (PKHS). Keduanya menjadi mitra Balai TNBT untuk memperhatikan pendidikan anak-anak Suku Talang Mamak. 

Di sanggar belajar Sadan yang sederhana, hanya ada dua ruang kelas. Semua murid berbaur di dua kelas itu saja. Selain dari hitungan umur, pembagian murid dilakukan secara kasat mata. Jika badannya besar, dimasukkan ke kelas lebih atas. Begitu pula sebaliknya. 

Selain itu kelas dibagi berdasarkan kemampuan murid. Jika belum bisa membaca, dimasukkan ke kelas rendah. Jika sudah bisa membaca, dimasukkan ke kelas tinggi. Bila memang sangat pandai membaca, bisa membantu mengajar teman-temannya yang lain.

Meski hanya belajar seadanya, anak-anak dusun di dalam TNBT ini tidaklah tertinggal dengan anak-anak di luar kawasan. Saat ujian nasional, mereka akan diikutkan ujian ke sekolah induk di Rantau Langsat ataupun sekolah formal terdekat. Biasanya anak-anak ini akan mandah atau menginap mengingat lokasi yang sulit diakses. Terbukti anak-anak Suku Talang Mamak yang berada di dalam kawasan bisa tetap lulus, bahkan pernah ada yang meraih juara. Mereka pintar-pintar.

PR utama pendidikan anak-anak Suku Talang Mamak yang berada di dalam kawasan TNBT, dari kunjungan saya beberapa hari lalu, hanya soal kesediaan dan keilkhasan hati guru. Mengajar anak-anak Suku Talang Mamak di dalam kawasan konservasi, memang bisa disebut sebagai kerja luar biasa, sehinga guru yang mau mengajar ke dalam kawasan, seharusnya dihargai Pemerintah Daerah secara luar biasa pula. 

Hendaknya guru yang mau mengajar ke dalam kawasan, diberi insentif berbeda dengan guru yang mengajar di luar kawasan. Mengingat rute dan tantangan mengajar yang tidak mudah. Tidak juga murah. 

Tentu saja, harapan besar kini tertuju pada Pemerintah Daerah Indragiri Hulu, yang saat ini dipimpin bupati perempuan pertama yang juga menjadi kepala daerah termuda se-Indonesia, Rezita Meylani Yopi. Meski saya belum mengenal Sang Bupati, tapi saya mengenal sosok Yopi, bupati sebelumnya yang juga suami dari Rezita, sebagai bupati yang sangat merakyat dan dicintai rakyat. 

Saya sangat yakin sekali, akan terjadi perubahan berarti bagi pendidikan anak-anak Suku Talang Mamak di dalam kawasan, bila terjalin kolaborasi yang harmonis dan saling mendukung dengan pihak TNBT. Ini akan menjadi kerja jariyah, karena selain memenuhi hak pendidikan dasar anak-anak Suku Talang Mamak di dalam kawasan, juga dapat berkontribusi melindungi keberadaan TNBT yang menjadi salah satu benteng terakhir penjaga ekosistem flora dan fauna endemik Indonesia khususnya di Pulau Sumatera.

Kemarin, saya masuk ke kelas Citra dan kawan-kawannya. Di papan tulisan mereka, saya menggambar secara sederhana. ''Anak-anak, inilah peta Indonesia kita,''.

Anak-anak Suku Talang Mamak berhak meraih pendidikan setinggi-tingginya. Mereka adalah pemberani, harus meraih pendidikan tinggi di luar kawasan, dan kelak bisa kembali untuk menjaga TNBT, sebagaimana kakek-nenek dan orangtua mereka telah lakukan selama lebih dari dua dekade ini.

Sebagai bentuk bantuan lainnya, pihak Balai TNBT juga telah memberikan pendampingan, pelatihan, bahkan merekomendasikan anak-anak kelompok petani hutan dari masyarakat Suku Talang Mamak bisa meraih beasiswa pendidikan. Namun tentu saja, keterbatasan kewenangan membuat Balai TNBT tetap perlu dukungan Pemda, terutama dalam hal memenuhi hak dasar pendidikan anak-anak Suku Talang Mamak di dalam kawasan konservasi.

Secara legalitas dan peningkatan kualitas hidup masa depan mereka, anak-anak Suku Talang Mamak ini tetap perlu diperjuangkan untuk mendapatkan pendidikan formal oleh Pemerintah Daerah. Perlu kolaborasi menjaga keberadaan Suku Talang Mamak, sekaligus menjaga lingkungan Taman Nasional Bukit Tigapuluh. Untuk hari ini dan anak-cucu kita nanti.

Menjaga Taman Nasional, sama artinya menjaga kedaulatan Indonesia kita. 

MERDEKA !!! 🇮🇩

* Penulis adalah Tenaga Ahli Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI.

 Mereka merdeka di dalam kawasan, tidak diganggu, dan mendapatkan manfaat dari hasil hutan bukan kayu untuk memenuhi kehidupan sehari-hari. Sementara untuk hak dasar pendidikan bagi anak-anak Suku Talang Mamak di dalam kawasan, hanya bisa dipenuhi melalui sanggar belajar. (Foto: Dok Ist)

Mereka merdeka di dalam kawasan, tidak diganggu, dan mendapatkan manfaat dari hasil hutan bukan kayu untuk memenuhi kehidupan sehari-hari. Sementara untuk hak dasar pendidikan bagi anak-anak Suku Talang Mamak di dalam kawasan, hanya bisa dipenuhi melalui sanggar belajar. (Foto: Dok Ist)