Tahniah  Hari Jadi Ke-64 Provinsi Riau, 9 Agustus 2021 dan HUT Ke-76 Kemerdekaan RI, 17 Agustus 2021. Semoga cepat bangkit dan bebas dari belenggu pandemi. Dirgahayu Provinsi Riau! Dirgahayu Republik Indonesia!***

 

Menelusuri Sungai Batang Gangsal, Surga Kecil Di Indragiri Hulu

Masyarakat Suku Talang Mamak di dalam kawasan, tetap hidup dengan menghormati keberadaan taman nasional. Ini bukan hal susah buat mereka, karena mereka sendiri sudah melakukan itu jauh sebelum pemerintah melakukan perlindungan kawasan melalui penetapan taman nasional. (Foto: Dok Ist)

Masyarakat Suku Talang Mamak di dalam kawasan, tetap hidup dengan menghormati keberadaan taman nasional. Ini bukan hal susah buat mereka, karena mereka sendiri sudah melakukan itu jauh sebelum pemerintah melakukan perlindungan kawasan melalui penetapan taman nasional. (Foto: Dok Ist)

serantauriau.news

Jumat, 20 Agustus 2021

 

____________

DR Afni Zulkifli MSi, Catatan (2) Perjalanan Ke Taman Nasional Bukit Tigapuluh

 

SAYA sudah mengunjungi puluhan Taman Nasional di Indonesia. Berkeliling hampir ke semua pulau. Menelusuri rimba, gunung, laut, menelusuri rapatnya mangrove, dalamnya gambut, terbang di atas langit Sabang, hingga menyentuh perbatasan negara di Distrik Sota, Merauke Papua. 

Namun ternyata, ada surga indah titipan Tuhan yang justru berada tak jauh dari tempat saya tinggal. Sajian dan kisah harmoni Suku Talang Mamak, yang merajut kehidupan di sepanjang Sungai Batang Gangsal dalam kawasan Taman Nasional Bukit Tigapuluh (TNBT), Indragiri Hulu, Riau, membuat saya gagal untuk tak jatuh cinta. Jatuh sejatuhnya cinta pada keindahan kekayaan alam milik kita, Indonesia.

Riau. Provinsi yang identik dengan problematika kehutanan dan lingkungan hidup yang begitu pelik, ternyata masih memiliki taman nasional yang begitu cantik. Perlu waktu berjam-jam menelusuri Sungai Batang Gangsal, hingga masuk ke dalam kawasan taman nasional. 

Petualangan dimulai dari Rantau Langsat. Berkendara mobil lk 5-6 jam dari kota Pekanbaru untuk sampai ke lokasi ini. Di sinilah lokasi terakhir yang bersinyal, sebelum melanjutkan perjalanan menggunakan perahu bermesin 15 PK untuk menelusuri Sungai Batang Gangsal. Petualangan pun dimulai memasuki lokasi taman nasional.

Semakin masuk ke dalam, semakin sunyi. Hanya ada kita dan alam. Hanya ada rimba dan gemericik air sungai. Bebatuan, pepohonan, burung-burung beterbangan. Suara hewan hutan bersahutan di kejauhan. Seperti sedang menonton film Avatar, tapi versi asli. 

Jalannya perahu membutuhkan dua orang. Pertama berperan sebagai nakhoda, pengemudi mesin di belakang. Kedua sebagai pemegang galah, yang akan membantu jalannya arah perahu di depan. Antara mereka berdua harus terjalin kerja sama yang baik. Karena jika tidak, perahu kayu bisa saja tertumbuk batu, atau bahkan hanyut tak tentu di derasnya air sungai yang seperti arena arung jeram. 

Sungai Batang Gangsal tidaklah terlalu dalam. Perahu sering tersangkut bebatuan, sehingga memaksa pengemudi dan pemegang galah harus turun dari perahu, lalu mendorong perahu agar menyentuh air lebih dalam. Itu terjadi berkali-kali. Berulang kali. Bahkan sesekali, penumpang juga harus ikut turun, agar berkurang beban perahu melewati arus dangkal. 

Di sepanjang perjalanan, sesekali kita akan bertemu dengan masyarakat tradisional Suku Talang Mamak. Sebagian besar dari masyarakat suku ini sudah bermigrasi keluar kawasan, namun sebagian lagi masih bertahan di dalam kawasan.

Di sinilah kita akan diajarkan tentang makna harmonisasi. Keberadaan masyarakat Suku Talang Mamak sudah lebih dulu dari penetapan taman nasional (tahun 1995). Karenanya meski taman nasional ini kawasan konservasi yang wajib dilindungi, masyarakat tidak serta merta diharuskan keluar. Karena ini adalah tempat nenek moyang mereka berasal. Namun bagaimanapun, mereka tentu saja harus ikut menjaga kelestarian taman nasional.

Mereka yang berada di dalam kawasan, hidup bersebati dengan alam. Mereka hidup dengan penuh rasa hormat terhadap hutan. Mereka membuat batas yang jelas, mengambil manfaat hutan secukupnya, dan tidak serakah dengan merusaknya. Bagi mereka, hutan adalah rumah, hutan adalah Ibu yang memberi mereka kehidupan. 

Ini akan terlihat saat kita singgah ke beberapa dusun, ataupun saat bertemu dengan masyarakat Suku Talang Mamak di sepanjang Sungai Batang Gangsal. Mereka adalah penduduk asli. Inilah salah satu yang membedakan kondisi TNBT, dengan kasus di beberapa kawasan konservasi lainnya. Di sini lapisan zona taman nasional relatif masih terjaga dari tekanan para pendatang, para perambah, ataupun pihak-pihak yang bisa merusak keberadaan taman nasional. Menjaga ini jelas tidak mudah. Perlu kerja sama dari banyak pihak.

Jika taman nasional rusak, tidak akan ada lagi rumah bagi masyarakat tradisional Suku Talang Mamak. Begitu pun sebaliknya, jika masyarakat Suku Talang Mamak tidak ikut menjaga, maka keberadaan taman nasional sudah pasti akan tinggal nama. Keduanya memiliki hubungan simbiosis. Meski secara hitam putih tidak tertulis, namun semua sudah menjalankan posisinya selama lebih dari dua dekade sejak taman nasional berdiri.

Perjalanan dari satu dusun ke dusun lainnya, membawa saya pada pengalaman sekaligus pemahaman tentang pentingnya harmonisasi dan kolaborasi menjaga taman nasional, serta menemukan banyak jawaban dari berbagai pertanyaan klasik. Seperti misalnya:

1. Mengapa Suku Talang Mamak masih hidup tertinggal di dalam kawasan taman nasional?

Jawaban: Karena mereka memang masyarakat yang hidup dengan cara tradisional. Makna tertinggal versi kita, ternyata tidaklah sama dengan makna tertinggal versi mereka. Jika sudah bisa bawa pulang jernang, tidak berkonflik angkat parang dan tenang berladang, bagi mereka sudah sama seperti punya rumah tinggal, lengkap dengan seisinya untuk hidup nyaman tujuh turunan. 

Jika mereka ingin hidup lebih maju, mereka memilih keluar dari kawasan taman nasional. Tapi kehidupan muasal mereka di dalam kawasan, tidak akan pernah digusur. Mereka malah didampingi, menjadi mitra konservasi. 

Pada akhirnya terbukti, sebagian besar yang sudah keluar dari kawasan, mulai beradaptasi dengan kehidupan baru. Membentuk keluarga baru, membentuk kebudayaan baru. Sementara masyarakat Suku Talang Mamak di dalam kawasan, tetap hidup dengan menghormati keberadaan taman nasional. Ini bukan hal susah buat mereka, karena mereka sendiri sudah melakukan itu jauh sebelum pemerintah melakukan perlindungan kawasan melalui penetapan taman nasional.

2. Mengapa tidak ada infrastruktur jalan, listrik, sekolah, akses internet, dll di dalam Taman Nasional?

Jawaban: Ya karena ini taman nasional. Pengelolaannya berdasarkan zonasi. Ada zona rimba, zona pemanfaatan, zona perlindungan bahari, zona tradisonal, zona rehabilitasi, zona religi, budaya dan sejarah, dan zona khusus. Selain tentu saja, ada zona paling sakral, yakni zona inti.

Zona inti mendapat prioritas perlindungan yang paling tinggi, punya keunikan dan memperoleh perlakuan (treatment) khusus. Zona inti menjadi kawasan yang mutlak dilindungi, tidak diperbolehkan adanya perubahan apa pun oleh aktivitas manusia. Bahkan setiap orang dilarang melakukan kegiatan yang dapat mengakibatkan perubahan terhadap keutuhan zona inti taman nasional. Di TNBT, pada zona inti masih hidup puluhan Harimau Sumatera, salah satu spesies paling dilindungi di muka bumi. 

Jika semua infrastruktur di atas diperbolehkan ada, maka sama saja seperti 'membunyikan lonceng kematian' bagi taman nasional dan penghuni di dalamnya. 

Jika ingin berkegiatan, membangun infrastruktur, bisa mengikuti ketentuan yang diatur berdasarkan zonasi. Seperti misalnya Suku Talang Mamak di dusun yang kami singgahi; Dusun Nunusan, Air Bomban, Dusun Sadan dan Dusun Suit, lokasinya berada di zona tradisional. Zona ini mengakomodir akses masyarakat untuk memanfaatkan Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK). Bahkan di zona ini, seperti di dusun Air Bomban dan Sadan, juga sudah berdiri rumah ibadah (Mushola). Tentu saja perlu izin yang sangat sulit untuk membangun di dalam taman nasional, semata-mata demi menjaga kelestariannya.

Mungkin untuk lebih jelasnya, bisa dibaca dari Google. Jadi jangan asal teriak minta dibangun itu ini di dalam Tlaman Nasional, apalagi di zona inti, jika tak ingin taman nasional kita rusak. Bagaimanapun, Taman Nasional harus dijaga sebagai lokasi konservasi pelindung flora fauna, yang juga akan melindungi keberlanjutan umat manusia di dunia.

Ah, kenapa jadi serius. Kan tadi kita sedang jalan-jalan menikmati suasana berperahu kayu. Kembali pada catatan perjalanan, semakin masuk ke kawasan taman nasional, semakin kami menemukan keindahan-keindahan yang tidak terkatakan, bahkan sulit tergambarkan dalam tulisan.

Kami sempat berhenti di salah satu lokasi bebatuan, menikmati makan siang sederhana yang terasa bagai makan di restoran bintang lima. Di sini juga bisa melaksanakan salat ditemani suara rimba raya. Subhanallah nikmatnya.

Total waktunya lebih kurang 7 jam perjalanan, untuk sampai ke Dusun Sadan. Dusun kecil ini hanya dihuni oleh puluhan KK saja. Di sini kami berhenti, untuk memulai petualangan baru. Beberapa hari hidup bersama masyarakat Suku Talang Mamak, kembali ke alam tanpa sinyal hp. ***

(Catatan berikutnya: Talang Mamak, Diantara Damar dan Auman Harimau Sumatera.)

* Penulis DR Afni Zulkifli MSi adalah akademisi yang pernah berhidmat sebagai jurnalis dan kini Tenaga Ahli Menteri Lingkungan Hidup Dan Kehutanan RI.

Riau, provinsi yang identik dengan problematika kehutanan dan lingkungan hidup yang begitu pelik, ternyata masih memiliki taman nasional yang begitu cantik. Perlu waktu berjam-jam menelusuri Sungai Batang Gangsal, hingga masuk ke dalam kawasan taman nasional.  (Foto: Dok Ist)

Riau, provinsi yang identik dengan problematika kehutanan dan lingkungan hidup yang begitu pelik, ternyata masih memiliki taman nasional yang begitu cantik. Perlu waktu berjam-jam menelusuri Sungai Batang Gangsal, hingga masuk ke dalam kawasan taman nasional. (Foto: Dok Ist)