Tahniah  Hari Jadi Ke-64 Provinsi Riau, 9 Agustus 2021 dan HUT Ke-76 Kemerdekaan RI, 17 Agustus 2021. Semoga cepat bangkit dan bebas dari belenggu pandemi. Dirgahayu Provinsi Riau! Dirgahayu Republik Indonesia!***

 

Rumah Suku Talang Mamak dan Harimau Sumatera: Taman Nasional Bukit Tigapuluh

Menjaga kelestarian TNBT, sama artinya menjaga kelestarian alam Indragiri Hulu, kelestarian Riau, kelestarian Indonesia tercinta. (Foto: Dok Ist)

Menjaga kelestarian TNBT, sama artinya menjaga kelestarian alam Indragiri Hulu, kelestarian Riau, kelestarian Indonesia tercinta. (Foto: Dok Ist)

serantauriau.news

Rabu, 01 September 2021

 

_________

DR Afni Zulkifli MSiCatatan (3) Perjalanan Ke Taman Nasional Bukit Tigapuluh

SETELAH 7 jam perjalanan berperahu, kami akhirnya sampai di Dusun Sadan. Lelah hilang seketika, ketika disambut keramahan anak-anak dan penduduk desa. Ini hari pertama kami akan tinggal bersama mereka.

Di Sadan, hanya ada sekitar 23 rumah saja. Masyarakat hidup begitu sederhana. Meski tak ada listrik PLN, hampir setiap rumah di sini sudah memiliki televisi, bahkan parabola. Dayanya berasal dari solar diesel atau sumber listrik tenaga matahari. Hidupnya hanya beberapa jam saat malam, dan itupun hanya beberapa rumah saja. Sisanya masih mengandalkan lampu teplok atau lampu minyak.

Begitu siang berganti malam, dusun Sadan diselimuti kesunyian, keheningan. Tentu ini membawa saya pada suasana berbeda dari hiruk pikuk kota. Ditambah lagi, tidak ada sebatang sinyal pun di sini. Hidup kembali primitif. 

Kami menumpang di rumah kayu sederhana Maryana (55), dengan kamar yang disekat seadanya. Wanita paruh baya ini telah 'dinobatkan' warga Sadan sebagai dukun kampung. Tidak ada pendidikan khusus untuk menjadi dukun di Sadan, karena warga memilihnya dengan cara kearifan lokal. 

Sebagai dukun kampung, jasa Maryana dibutuhkan bilamana ada penduduk dusun yang melahirkan, sakit, ataupun butuh pengobatan lainnya. Tidak ada dokter di sini. Jika sakit, obatnya hanya doa-doa, ritual adat dan berbagai adukan obat ala Maryana yang didapat dari hasil hutan. 

''Bayi-bayi di dusun ini lahir selamat, penduduk yang sakit juga sehat. Kami disembuhkan oleh Tuhan dan tanaman hutan,'' kata Maryana.

Untuk sumber air, Masyarakat Talang Mamak di Dusun Sadan masih mengandalkan aliran sungai Batang Gangsal. Jernih. Bersih. Hampir semua kegiatan yang membutuhkan air, warga desa mengambilnya dari sungai. Hanya ada satu kamar mandi bersama di dusun ini yang sumber airnya dari sungai, lokasinya persis di samping rumah Maryana. Saya mandi di sana. Segarnya....dahsyat tidak terkata. 

Masyarakat Dusun Sadan, sama dengan dusun-dusun lainnya, berada di zona pemanfaatan TNBT. Di sini mereka masih diperbolehkan untuk mendapatkan manfaat ekonomi dari Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK). 

Biasanya para laki-laki dewasa akan ke hutan, mengambil Jernang, Damar, Kelukup, dan berbagai tanaman HHBK lainnya. Perginya bisa berhari-hari. Tidak pulang ke dusun, tapi bermalam di dalam hutan. Inilah yang membedakan masyarakat Suku Talang Mamak dengan Suku Anak Dalam (SAD) yang sama-sama menghuni TNBT di wilayah Jambi. 

Sebagian masyarakat SAD masih berpindah-pindah berladang, sementara Suku Talang Mamak sudah cenderung menetap. Yang masuk ke hutan berhari-hari hanya para lelaki dewasa saja, sisanya, perempuan dan anak-anak, menunggu di dusun mereka. 

Jernang, Damar, dan Kelukup, adalah jenis-jenis HHBK yang baru dimanfaatkan masyarakat beberapa tahun terakhir. Ketiganya jenis hasil hutan berkelas ekspor. Namun sayangnya, karena masih kurangnya pengetahuan, masyarakat Suku Talang Mamak hanya bisa mendapatkan harga seadanya. Padahal butuh perjuangan untuk mengumpulkan jernang, damar dan kelukup di sekitar kawasan TNBT.

Warga suku Talang Mamak di dalam kawasan, tidak terhitung pernah bertemu dengan Harimau Sumatera, yang memang menjadi salah satu hewan endemik yang populasinya dalam bahaya dan sangat dilindungi. Populasi Harimau Sumatera di TNBT hanya tersisa sekitar 50-an saja, dari total perkiraan 400-an ekor di seluruh Indonesia.

Meski berada di rumah yang sama, antara Suku Talang Mamak dan Harimau Sumatera, seolah sudah memiliki keterikatan batin. Mereka tidak saling mengusik hidup bertetangga.

''Harimau itu adalah Datuk kami. Kami tidak memburu mereka, karena takut kualat. Jika panen buah, kami akan menyisakan sedikit sebagai tanda hormat berbagi tempat tinggal,'' kata Ujang (43), masyarakat suku talang mamak yang saya temui.

Bahkan ia pernah bertemu dengan rombongan keluarga Harimau. Tiga ekor. Mereka saling bertatapan, dan lewat pandangan membangun komunikasi untuk saling tidak menyerang satu sama lain.

''Selain baca doa, saya mengajak Harimau itu bicara dengan mengatakan untuk tidak saling mengganggu, karena kita sama-sama sedang mencari rezeki secukupnya di hutan untuk keluarga. Harimau itu akhirnya berlalu begitu saja,'' katanya. 

Tentu saja setelah itu ia lari terbirit-birit juga, karena bagaimanapun, Harimau tetaplah hewan buas yang bisa memangsa manusia. Lebih baik untuk dihindari daripada harus mengalami kontak langsung. 

Harimau Sumatera adalah satu-satunya jenis Harimau yang masih tersisa di Indonesia, setelah punahnya Harimau Jawa dan Harimau Bali. Masyarakat Suku Talang Mamak yang masuk dan tidur di hutan, masih sering mendengar suara auman sang Raja Rimba ini.

''Jika di dalam hutan, aura kedatangannya sudah terasa meski posisi Harimau itu masih sangat jauh dari kita. Suara aumannya akan jelas terdengar, apalagi kalau malam hari di tengah hutan. Mungkin dia mengawasi kami sedang berbuat apa. Jika merusak, tentu saja dia akan ikut marah, karena ini rumahnya juga,'' kata warga lain menambahkan.

Hutan bagi masyarakat Suku Talang Mamak tak sebatas rumah, tapi juga penyangga kehidupan. Ekonomi masyarakat Suku Talang Mamak, saat ini masih mengandalkan HHBK seperti Jernang, Kelukup, Damar dan Rotan, yang bernilai ekonomi tinggi. Namun karena minimnya pengetahuan dan masih diolah apa adanya, nilai ekonomis dari berbagai jenis komoditi ini belum optimal. 

Contoh saja, seperti Kelukup masih dijual dengan harga puluhan ribu saja oleh masyarakat perkilonya, padahal kalau sudah diolah dan diekspor, tanaman yang menjadi bahan dasar obat-obatan dan kosmetik ini bisa dihargai hingga puluhan juta. Bahkan kabarnya, Kelukup dari Indragiri Hulu, khususnya dari TNBT, diekspor hingga ke negara-negara Asia dan Eropa.

Begitu juga dengan Jernang dan Damar, nilainya bisa berkali-kali lipat ketika sudah sampai di luar kawasan. Padahal masyarakat Suku Talang Mamak mendapatkannya dengan sangat susah payah. Mereka harus berhari-hari di dalam hutan, bahkan memanggul hasil hutan tersebut secara manual, berjalan kaki, menuruni bukit, melewati sungai, dan bertaruh nyawa jika bertemu dengan hewan-hewan buas penghuni hutan. 

Karena itulah pihak Balai TNBT terus memberi pendampingan dan pembinaan. Namun tentu saja upaya ini tidak maksimal, jika tidak didukung oleh Pemerintah Daerah. Bagaimanapun, masyarakat Suku Talang Mamak yang berada di dalam kawasan bukan pemegang KTP TNBT, melainkan pemegang KTP Indragiri Hulu. Artinya ada tanggungjawab Pemda di sana, memikirkan kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat, dengan tetap menjaga kelestarian dan kekayaan Taman Nasional. Jangan sampai kelak saat semua potensi alam yang disediakan hutan kian berkurang, masyarakat akan beralih melirik 'tegakan pohon' sebagai godaan menghasilkan rupiah. Bahaya.

''Inilah yang benar-benar kami jaga, agar masyarakat tetap mendapatkan alternatif ekonomi dari HHBK dan bukan dengan merusak alamnya. Sebatang pohon yang usianya sudah puluhan tahun, jika dirusak mak nilai kerugiannya tak terkira dan tak tergantikan. Generasi saat ini mungkin masih sangat menjaga hutan, tapi kita tidak tahu dengan generasi selanjutnya, itulah yang harus terus kita dampingi, diajak menjaga bersama. Karena TNBT dan Suku Talang Mamak ini saling membutuhkan, dan harus saling menjaga satu sama lain',' kata Fifin, Kepala Balai TNBT saat kami berdiskusi di lokasi.

Tidak hanya ke Sadan, kami juga mengunjungi Dusun Suit. Tidak berperahu, melainkan jalan kaki. Melewati anak sungai, naik turun bukit, melewati beberapa kebun warga. Bukan kebun sawit, melainkan kebun yang dikelola secara turun-temurun hanya untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga seperti ubi, jagung, petai, dll. Selain itu juga ada tanaman untuk dipanen musiman. 

Hal yang paling dikhawatirkan adalah ketika tanaman dari sumber daya terbatas ini kelak habis, dari manakah masyarakat Suku Talang Mamak akan mendapatkan alternatif ekonomi? Ini adalah PR besar yang jawabannya harus disiapkan bersama hari ini, tidak hanya oleh pihak Balai TNBT, karena Taman Nasional ini milik kita bersama. 

Kelestarian yang masih ditemukan dan hidup di dalam kawasan, mungkin saat ini masih bisa terjaga. Tapi bila ada 'provokasi' dari luar, bukan tidak mungkin kawasan ini akan terancam. Untuk itu penting bagi Pemda, LSM, swasta, media, dan banyak pihak lainnya, saling berkolaborasi menjaganya.

Agar kelak air Sungai Batang Gangsal tetap mengalir jernih. Agar kelak suara rimba tetap bersuara mewarnai semesta. Agar keseimbangan ekosistem tetap terjaga. Agar kita semua menjadi umat terhormat di mata sang pencipta, karena tidak menjadi manusia serakah yang hanya meninggalkan bencana bagi generasi selanjutnya.

Menjaga kelestarian TNBT, sama artinya menjaga kelestarian alam Indragiri Hulu, kelestarian Riau, kelestarian Indonesia tercinta 🇮🇩🇮🇩🇮🇩 (Bersambung....)

Jernang, Damar, dan Kelukup,  adalah jenis-jenis HHBK berkelas ekspor yang baru dimanfaatkan masyarakat beberapa tahun terakhir di Taman Nasional Bukit Tigapuluh. (Foto: Dok Ist)

Jernang, Damar, dan Kelukup, adalah jenis-jenis HHBK berkelas ekspor yang baru dimanfaatkan masyarakat beberapa tahun terakhir di Taman Nasional Bukit Tigapuluh. (Foto: Dok Ist)